
Di dunia nyata kita bertemu orang dalam bentuk yang sesungguhnya, ada fisiknya, ada bentuknya. Sementara di dunia maya kita tidak sungguh-sungguh bertemu dengan orang dalam format fisiknya. Wah, susah juga ya ternyata kalau ingin menuliskannya.
Tetapi semakin jelas, bahwa dunia nyata dan dunia maya masing-masing ada komunitasnya, ada pertukaran informasi, ada komunikasi, dan ada transaksi.
Di dunia nyata, orang melakukan transaksi dan melakukan pembayaran menggunakan uang, cek atau giro, atau kartu kredit. Yang nyata tentu saja. Uang harus uang beneran, cek, giro, kartu kredit juga harus menunjukkan barang sesungguhnya. Penjual hanya mau menyerahkan barangnya kepada pembeli setelah menerima uang, cek / giro dan kartu kredit yang diyakini asli dan ada dananya.
Problemnya, di dunia maya pembeli dan penjual tidak bertemu muka secara langsung, tidak bisa pegang uang atau kartu kreditnya secara langsung untuk memastikan apakah itu asli atau tidak, benar atau tidak.
Cara pembayaran di internet yang dikenal luas sejauh ini adalah menggunakan kartu kredit. Jika di dunia nyata penjual bisa yakin kalau kartu kredit itu milik si pembeli karena bisa mencocokkan namanya, fotonya, tanda tangannya atau paling tidak melihat si pembeli mengeluarkan dari dompetnya sendiri. Tetapi di dunia maya, verifikasi visual seperti ini tidak bisa dilakukan.
Pembeli cukup mengetikkan beberapa informasi seperti nomor kartu, tanggal expired, nama yang tertera, plus kadang nomor verifikasi kartu (CVV), semua informasi ini tercetak dengan jelas di kartu kredit. Penjual lewat payment gateway yang dipakai cuma mem-verifikasi apakah betul ada nomor kartu sekian atas nama ini, expire kapan, dan apakah limit belanjanya masih mencukupi. Jika klop, lewatlah.
Tidak ada mekanisme untuk memastikan apakah pembeli yang menggunakan kartu kredit dimaksud adalah betul-betul miliknya sendiri, atau milik orang lain yang sempat diintip dan sebagainya. Teoritis, kartu kredit kita bisa dipakai belanja online oleh siapapun yang pernah mengintip kartu kredit kita, misalnya pada saat membayar makanan, membayar belanjaan, membayar hotel. Pada saat kartu kredit kita berada di tangan orang lain, jika dia mempunyai daya ingat yang baik, maka semuanya dengan mudah terekam oleh pihak lain yang bukan pemilik kartu yang sebenarnya.
Bagi yang memang benar-benar berniat jahat, bisa membeli alat tambahan yang ditempelkan pada pembaca kartu kredit sungguhan untuk meng-copy semua informasi kartu kredit yang di-swipe.

Tidak mengherankan, penyalahgunaan kartu kredit sangat marak di dunia maya. Jika di dunia nyata orang masih harus repot-repot memalsukan dan mencetak kartu kredit semirip mungkin dengan aslinya, di dunia maya sama sekali tidak perlu.
Negara terbelakang dengan penerapan hukum yang lemah menjadi ladang subur bagi para “carder”, orang yang menyalahgunakan kartu kredit lewat internet. Indonesia memiliki reputasi 3 besar negara asal “carding” terbesar di dunia, dua lainnya adalah Nigeria dan Rusia.
Tags: credit card, dunia maya, fraud
October 6th, 2008 at 4:32 pm
[...] PayGlobalOne.com mempunyai satu fitur pengaman yaitu email konfirmasi. Sebagaimana yang pernah diposting sebelumnya , bahwa salah satu tantangan terbesar bertransaksi di internet (dunia maya) adalah bagaimana [...]